Langsung ke konten utama

Wahai Ibu, Anakmu Ingin ...

Mudahkanlah, jangan kau persulit..
Mudahkanlah, semoga Allah memudahkan urusanmu di akhirat..

Wahai ibu,
Mudahkanlah urusan anakmu...
Mudahkanlah ia yang ingin memperbaiki dirinya.

Wahai ibu, andai kau tahu, betapa beratnya hiduo di jaman ini.
Bagi kami yang hidup sendiri (belum nikah), syahwat itu menyambar-nyambar.

Wahai ibu,
Anakmu memang lemah. Anakmu memang belum mandiri.
Apakah seorang wanita yang belum mandiri tak boleh menikah?

Wahai ibu,
Anakmu memang masih banyak kekurangan, sangat banyak. Tapi ia ingin menikah, agar ia bisa saling melengkapi dengan pasangannya

Wahai ibu,
Jangan kau persulit jalannya anakmu ke surga.
Ia ingin menundukkan nafsunya dengan menikah.
Wallahi ibu, dunia di depan mata anakmu terllau berat untuk dihadapi sendiri.

Wahai ibu,
Tidakkah aku belajar dari masa lalu?
Bukankah kau menikah di usia yang sangat belia, 23 tahun.
Lantas, apakah salah bila anakmu ingin menikah di usia 22 tahun?

Wahai ibu,
Andai kau tahu berapa kali anakmu menolak laki2 yang datang. Menolak karena menurutnya cara laki2 tsb kurang tepat.

Wahai ibu,
Andai kau tahu bahwa laki2 yang datang ini, begitu sangat menghargai anakmu. Bahkan ia tak sanggup mengatakannya keinginannya secara langsung. Dia lewat perantara.

Wahai ibu,
Laki-laki ini sholih, ibu...
Lantas mengapa kau tolak?
Ah, bukan kau menolaknya. Tapi kau tak mengijinkan anakmu menikah.

Wahai ibu,
Jawabanmu menyuruhnya menunggu 3 tahun itu sebuah jawaban yang sangat keliru.
Tentu saja anakmu tak mau. Pun pria sholih itu pun tak mau.
Itu bukan sesuai syariat agama ini, ibu..

Wahai ibu,
Saksikanlah anakmu ingin menikah untuk menjaga kehormatannya. Sungguh, ibu.
Mengertilah...
Berat sekali hidup di jaman ini..

Ibu,
Saksikanlah ibu...
Jika memang kau menyaksikannya bantulah anakmu ibu.
Jangan kau persulit dengan aturan yang tak pernah ada dalam syari'at.

Wahai ibu,
Pahamilah...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tulis Bebas tentang "Pandangan Mata"

Oleh: Hanif Fakhrunnisa Pandangan mata ibarat anak panah yang mampu menusuk hati. Bagaimana tidak, seorang alim nan masyhur hafalannya rontok hanya karena tertarik melihat seorang wanita. Kemudian ia beristigfar karena kelalaiannya. Astagfirullah. Telah sampaikah kepada kita, cerita nan penuh faidah tentang seorang alim yang terpikat pada mata seorang muslimah pemakai cadar. Lalu sang alim mengikuti wanita tersebut, hingga pada suatu tempat, wanita itu bertanya, "Mengapa kau mengikutiku?" Sang alim menjawab, "Aku tertarik pada matamu." Kemudian wanita itu menyuruh sang alim menunggu sebentar. Apa yang terjadi selanjutnya? Seorang pelayan perempuan keluar dengan membawa mangkuk. Terkejutlah hati sang alim, karena mangkuk tersebut berisi sepasang masta milik wanita tadi. Astagfirullah. Menyesal sudah sang alim. Tak sanggup ia berkata. Ia meminta maaf berkali-kali, namun tiada guna. Bagaimana sang wanita? Beberapa saat kemudian wanita terseb...