Langsung ke konten utama

Khithbah, sembunyikan


Di antara hikmah mengapa khitbah sebaiknya dirahasiakan adalah untuk menjaga kehormatan dan perasaan pihak perempuan beserta keluarga besarnya, jikalau ternyata Allaah berkehendak lain atas rencana sakral itu.

Jadi plis, tolong, perhatikan adab ini, terlebih jika kita termasuk yang konon kabarnya "sudah ngaji", biar kita tidak menjadi sebab orang lain berbuat sebagaimana kita, padahal belum tentu yang kita perbuat itu tepat.
Sungguh, menikah itu ujian kesabaran. Dulu dinanti-nanti, bahkan mungkin sampai bebanjiran air mata, begitu sudah hampir deal, masih tetap diminta bersabar menanti pula. Sabar dalam menahan diri untuk tidak mengobral kabar bahagia sampai betul datangnya hari H, plus (yang terpenting) menahan diri dari chit-chat dan interaksi tidak penting dengan si dia, tanpa melalui perantara atau walinya.

Dan lagi plis, tolong juga, karena khitbah dan prosesi menuju hari H itu sebaiknya dirahasiakan, maka baiknya kita pun tidak memberondong teman kita yang mau jadi manten itu dengan investigasi, "Hayooo, lagi proses yaaa..."

Apalagi, "Hayooo, kapan nikaaah?" Eleuh, ya mana kita tau. Soal itu biar jadi urusan dan kewenangan Allaah, kita mah iyain aja kalau memang sudah waktunya. Tunggu aja undangan dan kabar bahagianya. Kan gitu. Yegak. *mukebijak*

Yang jelas, investigasi model-model gini kayaknya ga perlu lah ya dijawab, palagi ditanggepin serius. Cukup berikan senyuman kita yang paling lebar. Gini nih contohnya :)))))))

Akhir kata, tulisan ini kunasehatkan pertama kali pada diriku sendiri. Mudah-mudahan tidak lupa. Mudah-mudahan bermanfaat.

Bagi teman-teman yang sedang berproses, semoga Allaah mudahkan dan berkahi langkahnya. Bagi yang hingga hari ini hilal belum juga tampak, tidak perlu terburu-buru menggenapkan tanggal, sebab pernikahan tidak sama dengan sidang itsbat.

Doakan saja, mudah-mudahan Allaah meridhai masa lajangnya, dan jika segera menikah adalah jalan terbaik baginya, semoga Allaah menyegerakan kebaikan itu untuknya.

Best regards,
nina

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tulis Bebas tentang "Pandangan Mata"

Oleh: Hanif Fakhrunnisa Pandangan mata ibarat anak panah yang mampu menusuk hati. Bagaimana tidak, seorang alim nan masyhur hafalannya rontok hanya karena tertarik melihat seorang wanita. Kemudian ia beristigfar karena kelalaiannya. Astagfirullah. Telah sampaikah kepada kita, cerita nan penuh faidah tentang seorang alim yang terpikat pada mata seorang muslimah pemakai cadar. Lalu sang alim mengikuti wanita tersebut, hingga pada suatu tempat, wanita itu bertanya, "Mengapa kau mengikutiku?" Sang alim menjawab, "Aku tertarik pada matamu." Kemudian wanita itu menyuruh sang alim menunggu sebentar. Apa yang terjadi selanjutnya? Seorang pelayan perempuan keluar dengan membawa mangkuk. Terkejutlah hati sang alim, karena mangkuk tersebut berisi sepasang masta milik wanita tadi. Astagfirullah. Menyesal sudah sang alim. Tak sanggup ia berkata. Ia meminta maaf berkali-kali, namun tiada guna. Bagaimana sang wanita? Beberapa saat kemudian wanita terseb...