Langsung ke konten utama

Tentang Cinta dan Jodoh

Kalau jodoh harus dijemput, jangan pernah membuat orang yang kamu jemput itu menunggu. Jikapun terpaksa, tak perlu berlama-lama. Karena dia akan sampai pada jodohnya, dengan atau tanpa kamu. Kalau memang dia adalah jodoh kamu, kamu akan membersamainya. Tapi jika dia bukan jodoh kamu, tolong jangan jadi penghalang baginya untuk menemukan jodoh yang lebih tepat daripada kamu. Lakukan apa saja selama itu baik untuk mendapatkannya, tapi jangan pernah memintanya menunggu tanpa kepastian. Menunggu saja sudah melelahkan, apalagi ditambah dengan ketidakpastian. Tentu berkali-kali lebih melelahkan.

Kamu memintaku untuk bersabar atas nama cinta. Kamu harus tahu, tak mau menunggu bukan berarti aku tidak sabar. Aku hanya berusaha untuk bergerak dari satu takdir ke takdir lainnya. Dari seorang kamu ke laki-laki lain, yang semoga jauh lebih baik dan tepat untuk menggenapi hidupku kelak. Lagipula, perempuan yang cerdas harusnya menyadari, bahwa tidak semua laki-laki layak ditunggu untuk menggenapi hidupnya. Dan maaf, laki-laki yang tidak bisa memberi kepastian adalah salah satu golongan laki-laki yang tidak layak untuk ditunggu.

Kamu bilang, cinta itu butuh pengorbanan. Dan menunggu adalah salah satu bentuknya. Aku juga ingin bilang, cinta itu tanggung jawab. Jadi jangan bicara tentang cinta jika kamu tidak berani untuk mengambil tanggung jawab atas kehidupan dunia akhirat perempuan yang katanya kamu cintai itu. Tanggung jawab yang selayaknya kamu ambil dengan menggenapi hidupnya. Bukan malah menghindar dari tanggungjawab yang kamu bungkus dengan kalimat; tunggu, sampai aku benar-bena siap. Laki-laki yang bertanggung jawab itu memberikan komitmen, bukan sekedar janji. Dan tak ada komitmen yang bisa berdiri kokoh di atas ketidakpastian.

Kamu bilang, cinta itu butuh pengorbanan. Mungkin ada benarnya. Tapi cinta yang tulus, tidak akan pernah menyakiti. Mungkin akan membutuhkan banyak pengorbanan, tapi pengorbanan yang membahagiakan. Bukan pengorbanan yang disesali. Dan tak ada bahagia-bahagianya perempuan yang menunggu laki-laki yang tidak memberi kepastian. Jikapun ada, itu sedikit sekali dibandingkan dengan rasa cemas dan khawatir yang dirasakan. Dan kebahagian yang sedikit itu juga bukan berasal dari proses menunggu, tapi dari proses berharap, yang rentan sekali mendatangkan kecewa.

Memang, tidak semua orang beruntung bisa memiliki orang yang dicintainya, tapi kita selalu bisa mencintai siapa yang sudah kita miliki. Memang, menyenangkan memiliki apa atau siapa yang kita cintai. Tapi kita bukan hanya bisa memulainya dari mencintai, kita juga bisa memulainya dari memiliki. Tak mesti mencintai dulu lalu memiliki. Bisa juga bisa memiliki lantas mencintai. Bahkan seharusnya, mencintai apa yang sudah kita miliki jauh lebih mudah daripada mencintai apa yang belum kita miliki. Dan aku tak mau hidupku jadi lebih rumit hanya karena ketidakpastian darimu. Jadi, selamat tinggal!

___ Genap, Nazrul Anwar 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tulis Bebas tentang "Pandangan Mata"

Oleh: Hanif Fakhrunnisa Pandangan mata ibarat anak panah yang mampu menusuk hati. Bagaimana tidak, seorang alim nan masyhur hafalannya rontok hanya karena tertarik melihat seorang wanita. Kemudian ia beristigfar karena kelalaiannya. Astagfirullah. Telah sampaikah kepada kita, cerita nan penuh faidah tentang seorang alim yang terpikat pada mata seorang muslimah pemakai cadar. Lalu sang alim mengikuti wanita tersebut, hingga pada suatu tempat, wanita itu bertanya, "Mengapa kau mengikutiku?" Sang alim menjawab, "Aku tertarik pada matamu." Kemudian wanita itu menyuruh sang alim menunggu sebentar. Apa yang terjadi selanjutnya? Seorang pelayan perempuan keluar dengan membawa mangkuk. Terkejutlah hati sang alim, karena mangkuk tersebut berisi sepasang masta milik wanita tadi. Astagfirullah. Menyesal sudah sang alim. Tak sanggup ia berkata. Ia meminta maaf berkali-kali, namun tiada guna. Bagaimana sang wanita? Beberapa saat kemudian wanita terseb...