Langsung ke konten utama

Rindu dan Doa

Ada rindu yg teramat sangat.
Apalah daya, pena terasa tumpul untuk menulis rasa.
Tak bisa kata merefleksikan rasa.

.
Aku tak lupa, di sini ada hati.
Ketika ia bersih dan suci, harapan2nya lebih mudah dikabulkan oleh As-Sami' Al-Mujiib.
.
Teringat, obat hati yang kotor adalah istigfar.
Menghitung2 berapa istigfar yg kupanjat.
Teringat pula, "bila kau bingung karena terlalu banyak permohonanmu, mohonlah ampun untuk dirimu"
Astagfirullahal 'adzim..
Allahumma innaka 'afwun karim, tuhibbul 'afwa, fa'fu 'anna
Allahumma, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Engkau mencintai permohon maaf, maka maafkanlan kami..
.
Kerinduan ini bisa jadi caraNya agar aku mendoa.
Ahh betapa sering aku lupa, kalimat Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu, "aku tidak merisaukan pengabulan doaku. Tapi aku takut, tidak diberi hidayah untuk berdoa."
.
Jika kau juga rindu, entah rindu apa, semoga rindumu bukan rindu yang membuatmu lemah.
Jangan jadikan kerinduan sebagai suatu kelemahan.
.
Teman, mari berdoa.. berdoa apa saja..
Dan saranku, perbanyaklah doa sesuai doa2 para nabi dan rasul.
Tetaplah berdoa untuk segala hal, teman..
.
Satu lagi, ini bulan ramadhan.. banyak sekali waktu mustajab.. mari jangan sia-sia kan...
.
_______
Menulis adalah menasihati diri sendiri.
.
1 Ramadhan 1437 H
'AbdaturRahman
Hanif Fakhrunnisa

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tulis Bebas tentang "Pandangan Mata"

Oleh: Hanif Fakhrunnisa Pandangan mata ibarat anak panah yang mampu menusuk hati. Bagaimana tidak, seorang alim nan masyhur hafalannya rontok hanya karena tertarik melihat seorang wanita. Kemudian ia beristigfar karena kelalaiannya. Astagfirullah. Telah sampaikah kepada kita, cerita nan penuh faidah tentang seorang alim yang terpikat pada mata seorang muslimah pemakai cadar. Lalu sang alim mengikuti wanita tersebut, hingga pada suatu tempat, wanita itu bertanya, "Mengapa kau mengikutiku?" Sang alim menjawab, "Aku tertarik pada matamu." Kemudian wanita itu menyuruh sang alim menunggu sebentar. Apa yang terjadi selanjutnya? Seorang pelayan perempuan keluar dengan membawa mangkuk. Terkejutlah hati sang alim, karena mangkuk tersebut berisi sepasang masta milik wanita tadi. Astagfirullah. Menyesal sudah sang alim. Tak sanggup ia berkata. Ia meminta maaf berkali-kali, namun tiada guna. Bagaimana sang wanita? Beberapa saat kemudian wanita terseb...