Langsung ke konten utama

Tangguhkanlah Dirimu Lebih Dulu



.
Di antara kita ada yang memimpikan mempunyai anak-anak penjaga wahyu, para penghafal Al Quran.
.
Anak-anak tangguh yang tumbuh dengan Al Quran. Tak pernah jemu membacanya, mengulang-ulangnya, memahaminya. Menjadikan Al Quran sebagai nafas hidupnya.
.
Namun di mana posisi kita dari mimpi-mimpi itu ?
.
Sudahkah kita membacanya hari ini ?
.
Sudahkah kita perbaiki makhorijul hurufnya ?
.
Sudahkah kita mengulang-ulang hafalan kita ?
.
Sudahkah kita mentadabburi ayat perayatnya ?
.
Sudahkah kita mengamalkannya dan menjadikannya sebagai hiasan dari setiap desah nafas kita ?
.
Jika jawabannya belum, maka tanyalah pada hatimu.
.
"Bagaimana aku akan mengajarkan Al Quran pada anak-anakku?"
.
"Bagaimana aku bisa menyemangati anak-anakku untuk selalu dekat dengan Al Quran?"
.
Didiklah dirimu lebih dulu, sebelum kau mendidik anak-anakmu.
.
Kuatkanlah dirimu terlebih dulu, sebelum kau menguatkan anak-anakmu.
.
Jangan pernah berputus asa dengan dirimu.
.
Hidayah dan keistiqomahan bisa didapat dengan diminta pada Allah.
.
—tidak tau penulisnya, copas @nisaa_ummumaryam
Pict [@maryam_hijrah]
______
#sedangbutuhdisemangati
#quran #alquran

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tulis Bebas tentang "Pandangan Mata"

Oleh: Hanif Fakhrunnisa Pandangan mata ibarat anak panah yang mampu menusuk hati. Bagaimana tidak, seorang alim nan masyhur hafalannya rontok hanya karena tertarik melihat seorang wanita. Kemudian ia beristigfar karena kelalaiannya. Astagfirullah. Telah sampaikah kepada kita, cerita nan penuh faidah tentang seorang alim yang terpikat pada mata seorang muslimah pemakai cadar. Lalu sang alim mengikuti wanita tersebut, hingga pada suatu tempat, wanita itu bertanya, "Mengapa kau mengikutiku?" Sang alim menjawab, "Aku tertarik pada matamu." Kemudian wanita itu menyuruh sang alim menunggu sebentar. Apa yang terjadi selanjutnya? Seorang pelayan perempuan keluar dengan membawa mangkuk. Terkejutlah hati sang alim, karena mangkuk tersebut berisi sepasang masta milik wanita tadi. Astagfirullah. Menyesal sudah sang alim. Tak sanggup ia berkata. Ia meminta maaf berkali-kali, namun tiada guna. Bagaimana sang wanita? Beberapa saat kemudian wanita terseb...