Langsung ke konten utama

Catatan Pertemuan #2 Kajian Kitab Afatul Lisan


1. Syaikh Nawawi Al Bantani dalam Tafsir beliau menjelaskan makna di balik urutan larangan dalam ayat:
"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang. Jangan pula menggunjing satu sama lain..." [QS Al Hujurat: 12]
- Biasanya semua berawal dari prasangka (zhann)
- Setelah berprasangka, maka dia akan membuktikan prasangkanya itu dengan tajassus, yakni menyelidiki keadaannya apakah benar prasangkanya itu.
- Setelah selesai menyelidiki dan mendapati bahwa faktanya ternyata sesuai prasangkanya, baru dia membicarakannya, dan jatuhlah pada ghibah atau menggunjing.
Maka jika sudah berprasangka, segera istighfar dan jangan diteruskan menyelidiki (tajassus), yang kemungkinan akan berakhir dengan ghibah.
2. Pada surat Al Humazah ayat pertama: Celakalah setiap humazah al lumazah. Bedanya, humazah adalah mencela dengan perbuatan, semisal jempol diarahkan ke bawah (thumb down) atau isyarat lainnya. Sedangkan lumazah adalah mencela dengan kata-kata.
3. Ghibah adalah membicarakan sesama muslim sesuatu yang memang ada pada dirinya, saat dirinya tidak ada di situ, dimana jika dia tahu, ia tidak suka. Jika tidak ada pada dirinya, maka itu berarti kedustaan terhadapnya.
4. Menurut mayoritas ulama, ghibah termasuk dosa besar yang terdapat ancaman khusus terhadap pelakunya. Di akhirat mereka mencakar wajah mereka sendiri dengan kuku dari tembaga.
5. Boleh menceritakan aib sendiri jika ada mashlahat di situ. Sebagaimana 'Aisyah -radhiyallahu 'anha- bercerita bahwa dirinya mengghibah Shafiyyah -radhiyallahu 'anha- dengan mengatakan "dia itu pendek", lalu ditegur keras oleh Nabi. Jika 'Aisyah tidak menceritakan aib beliau, niscaya kita tidak akan tahu hadits tentang ibu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tulis Bebas tentang "Pandangan Mata"

Oleh: Hanif Fakhrunnisa Pandangan mata ibarat anak panah yang mampu menusuk hati. Bagaimana tidak, seorang alim nan masyhur hafalannya rontok hanya karena tertarik melihat seorang wanita. Kemudian ia beristigfar karena kelalaiannya. Astagfirullah. Telah sampaikah kepada kita, cerita nan penuh faidah tentang seorang alim yang terpikat pada mata seorang muslimah pemakai cadar. Lalu sang alim mengikuti wanita tersebut, hingga pada suatu tempat, wanita itu bertanya, "Mengapa kau mengikutiku?" Sang alim menjawab, "Aku tertarik pada matamu." Kemudian wanita itu menyuruh sang alim menunggu sebentar. Apa yang terjadi selanjutnya? Seorang pelayan perempuan keluar dengan membawa mangkuk. Terkejutlah hati sang alim, karena mangkuk tersebut berisi sepasang masta milik wanita tadi. Astagfirullah. Menyesal sudah sang alim. Tak sanggup ia berkata. Ia meminta maaf berkali-kali, namun tiada guna. Bagaimana sang wanita? Beberapa saat kemudian wanita terseb...