Langsung ke konten utama

Ketika Ditanya Kenapa

Diri ini lebih sering bertanya 'kenapa' daripada pertanyaan yang lain. Tapi giliran ada yang bertanya alasan, malah bingung njawab.

Ceritanya pulang ke rumah lama. Terus tetangga deket datang dan bertanya, "dulu kenapa sih bisa kuliah di sana?"
Jawaban spontan,"takdir Allah, mbak. Qadarullah Nisa masuk Sastra Arab."

Waaaah jelas aja, mbak itu gak puas. Hehehehe
Tapi itu jawaban paling tepat menurutku di saat seperti itu.
Bukan tak punya alasan, tapi tak bisa mengungkapkan. #ehhh
Males berformal-formal ria.
Atau mengatakan isi hatiku, haaaa itu biarlah Allah dan daku yang tahu kenapa bisa memilih ini.

Selanjutnya, tetangga itu bulang,"lhooo bukannya udah ndaftar di pertanian?"
Senyum dan berbinar, "iya, mbak.. bener. Udah mbayar malah, tinggal masuk. Tapi alhamdulillah juga diterima di Sastra Arab, akhirnya milih yang ini dan meninggalkan pertanian."
Jawaban ini justru membuatnya semakin bertanya tentang alasan.

Huhuhuu
Sedikit kapok, sering bertanya alasan.
Ah, aku pun sudah tahu bahwa sebagian besar pekerjaan itu tidak butuh alasan.
 Seperti mengapa sebagian orang tidak butuh alasan untuk mencintai Allah. Atau mengapa sebagian orang menghabiskan waktunya untuk membaca Alquran, tapi ia tak butuh alasan bukan tak ada alasan, tapi tak ingin diungkapan.

Ya, kenapa terkadang tidak bisa terjawab.

Jadi inget kata Pak Rizqa, pak dosen,"ketika saya menikahi istri, saya tidak punya alasan. Hehhehe tapi saya yakin dia adalah jodoh saya. Saya harus nikahi dia, alasannya bisa dipikir sambil jalan."
Huhuhu inspirasi
---○○○---

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tulis Bebas tentang "Pandangan Mata"

Oleh: Hanif Fakhrunnisa Pandangan mata ibarat anak panah yang mampu menusuk hati. Bagaimana tidak, seorang alim nan masyhur hafalannya rontok hanya karena tertarik melihat seorang wanita. Kemudian ia beristigfar karena kelalaiannya. Astagfirullah. Telah sampaikah kepada kita, cerita nan penuh faidah tentang seorang alim yang terpikat pada mata seorang muslimah pemakai cadar. Lalu sang alim mengikuti wanita tersebut, hingga pada suatu tempat, wanita itu bertanya, "Mengapa kau mengikutiku?" Sang alim menjawab, "Aku tertarik pada matamu." Kemudian wanita itu menyuruh sang alim menunggu sebentar. Apa yang terjadi selanjutnya? Seorang pelayan perempuan keluar dengan membawa mangkuk. Terkejutlah hati sang alim, karena mangkuk tersebut berisi sepasang masta milik wanita tadi. Astagfirullah. Menyesal sudah sang alim. Tak sanggup ia berkata. Ia meminta maaf berkali-kali, namun tiada guna. Bagaimana sang wanita? Beberapa saat kemudian wanita terseb...