Langsung ke konten utama

Ya Akhi, Hujjatun Laka aw Hujjatun Alaika

Oleh: Hasan Al-Jaizy

Saya memohon kepada Allah Ta'ala ilmu yang bermanfaat (yang akan menjadi hujjah kebaikan buat kita bukan hujjah keburukan atas kita), amalan yang shaleh dan rizki yang baik. Saya memohon kepada Allah sikap inshaf, adil dan tidak berlebihan juga semoga tidak berlonggar (taqshir ataupun mudahanah). Dan sungguh Allah Maha Tinggi, sementara kita wajib merendah diri di hadapan-Nya.
Saya meminta pula ikhwah sekalian, juga sebelumnya diri saya, agar menyimak sedikit kalam Syaikh al-Albany -semoga Allah rahmati beliau- berikut; dan senantiasa kita takut pada ar-Rabb. Jika kita meminta muslim lain agar tidak mendahului ustadz besar atau ulama dalam berkata tentang agama, maka mari minta diri kita masing-masing agar tidak bersikap seolah ustadz besar atau ulama dalam memvonis sesama muslim; yang sedianya bersikap mendahului mereka.
Di suatu majelis Syaikh al-Albany, beliau ditanya oleh seorang muridnya (percakapan nyata terekam di link YouTube ini):
"Apakah al-Ikhwan (IM) tergolong firqah dari firqah-firqah yang telah dikabarkan oleh Nabi (yakni: hadits tentang terpecahnya umat ini menjadi beragam firqah, hanya satu yang selamat)?"
Apa jawaban al-Albany?
"TIDAK! TIDAK! Al-Ikhwan al-Muslimun di dalamnya terdapat (orang-orang) dari semua kalangan. Di antara mereka SALAFIYYUN (?), di antara mereka khalafiyyun, di antara mereka ada begini begitu. Maka TIDAK BENAR untuk memutlakkan atas mereka SATU SIFAT (saja). Melainkan kita katakan: Barangsiapa yang membangun perselisihan terhadap manhaj al-Qur'an dan as-Sunnah dari INDIVIDU mereka (yakni: bukan kemutlakan), maka dia bukan termasuk dalam golongan yang selamat, melainkan dia termasuk dalam golongan yang celaka.
Adapun Jama'ah (maksudnya: Jama'ah Tabligh, karena sebelum pertanyaan di atas, ada pertanyaan tentang Jama'ah Tabligh) ."
Kemudian, ada pertanyaan untuk beliau:
"(Bagaimana dengan) penghukuman (yakni: vonis) terhadap AFRAD (perorangan)?"
Kata Syaikh al-Albany:
"Vonis terhadap perorangan. Ya Allah. Ahsanta! Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu alla ilaaha illa anta....."
Setelah beliau menyebut Ahsanta (yakni: Bagus kamu!), beliau berpaling dengan menutup majelis dengan doa kaffaratul majelis. Hal yang mu'awwal dari konteks ini adalah beliau berusaha berhati-hati terhadap pertanyaan ini, yang kelak akan berujung pada pertanyaan mengenai fulan dan fulan, yang kemudian akan menjulur pada vonis terhadap fulan dan fulan.
Saya menulis status ini dengan menimbang:
[1] Kian maraknya perseteruan yang diharapkan para informan berimbang rupanya tidak melainkan justru pihak satu kubu (yang engkau tahu) justru lebih suka main curhat di status masing-masing; kemudian para cheerleaders menghiasi voting dan dukungan. Padahal sebenarnya diskusi pun bisa dirundingkan bersama-sama di tempat khusus dan sudah available namun justru di-ignore.
[2] Tidak cukup itu. Satu sama lain para cheerleaders terutama saling lewek-lewekan, memvonis (dengan komporan shahib al-status). INI UNTUK KEDUA KUBU. Baik kubu A maupun B.
[3] Disebut kubu: HIZB. Satu dituding bertahazzub, dan yang menuding seolah tidak merasa bahwa pengomporan, pengumpulan donasi liker dan komentar status, vonis yang diaminkan para cheerleaders dan bahkan sudah mencapai derajat ghibah bingkisan nasehat (yang tidak ada nafas nasehatnya melainkan vonis MLM), adalah merupakan karakter tahazzub; bima ladayhim farihun! Jelas bagi kami setelah melihat zahir dari status-status, bahwa hizbiyyah terselubung pun ada di kumpulan (katakanlah: oknum-oknum) para penuding fulan hizby fulan haraky. Jika dibiarkan dan terus dipanaskan, akan semakin kental terlihat, bahkan lebih parah: karena para pelaku takkan mengaku. Masih baik jika tidak mengaku, lebih berbahaya lagi jika ditegur malah berbalik menuduh bertalu-talu.
[4] Kian maraknya thalib al-ilm (jika memang benar thalib) bersikap sudah seperti ustadz besar bahkan melampaui batas kalam ulama dalam urusan vonis terhadap individu mu'ayyan.
Apakah semua ini kita dasarkan atas ikhlas dan ibadah? Really?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tulis Bebas tentang "Pandangan Mata"

Oleh: Hanif Fakhrunnisa Pandangan mata ibarat anak panah yang mampu menusuk hati. Bagaimana tidak, seorang alim nan masyhur hafalannya rontok hanya karena tertarik melihat seorang wanita. Kemudian ia beristigfar karena kelalaiannya. Astagfirullah. Telah sampaikah kepada kita, cerita nan penuh faidah tentang seorang alim yang terpikat pada mata seorang muslimah pemakai cadar. Lalu sang alim mengikuti wanita tersebut, hingga pada suatu tempat, wanita itu bertanya, "Mengapa kau mengikutiku?" Sang alim menjawab, "Aku tertarik pada matamu." Kemudian wanita itu menyuruh sang alim menunggu sebentar. Apa yang terjadi selanjutnya? Seorang pelayan perempuan keluar dengan membawa mangkuk. Terkejutlah hati sang alim, karena mangkuk tersebut berisi sepasang masta milik wanita tadi. Astagfirullah. Menyesal sudah sang alim. Tak sanggup ia berkata. Ia meminta maaf berkali-kali, namun tiada guna. Bagaimana sang wanita? Beberapa saat kemudian wanita terseb...