Langsung ke konten utama

Curhatan Seorang Ulama Tebtang Gurunya

Imam Tajuddin As-Subki -rahimahullah- mengisahkan:
"Aku lebih banyak bermulazamah dengan Al-Hafidz Adz-Dzahaby. Aku mendatanginya dua kali dalam sehari. Adapun Al-Hafidz Al-Mizzy, aku tidak mendatanginya kecuali dua kali dalam sepekan.
Penyebabnya karena Adz-Dzahaby sangat lembut padaku dan menyayangiku. Sedangakan Al-Mizzi adalah orang yang suka bermuka masam dan sangat berwibawa. Padahal ayahku ingin sebaliknya karena kedudukan Al-Mizzy yang sangat agung disisinya."
(As-Subki dalam Thabaqaat As-Syafi'iyah, jilid: 10 hal: 398-399)
Catatan:
Apa yang pernah dirasakan oleh imam As-Subki mungkin juga pernah kita rasakan.
Begitulah.. Dalam perjalanan menuntut, kadang seorang murid diuji dengan sikap kurang mengenakkan dari sang guru. Meskipun begitu, jangan sampai sikap-sikap itu membuat kita patah semangat dan meninggalkan majelis ilmu.
Imam Syafi'i -rahimahullah- pernah berpesan:
اصبر على مـر الجفـا من معلم
فإن رسوب العلم في نفراته
ومن لم يذق مر التعلم ساعــة
تجرع ذل الجهل طول حياته
ومن فاته التعليم وقت شبابــه
فكبر عليه أربعا لوفاتــه
وذات الفتى والله بالعلم والتقى
إذا لم يكونا لا اعتبار لذاته
“Bersabarlah atas pahitnya sikap sang guru, karena kegagalan mencari ilmu disebabkan ketidak sanggupan menghadapinya
Barangsiapa yang belum merasakan pahitnya belajar walau sesaat, Maka dia akan menelan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya.
Barangsiapa yang tidak belajar di waktu mudanya, maka bertakbirlah sebanyak empat kali atas kematiannya.
Demi Allah... Eksistensi seorang pemuda adalah dengan ilmu dan ketakwaan. Bila keduanya tidak ada pada dirinya, maka tidak ada jati diri bagi dirinya.”
Pepatah arab mengatakan:
"من صبر ظفر"
"Siapa yang bersabar pasti meraih kemenangan"
Iya, bersabarlah...
Bukankah pecinta mawar harus rela menahan sakitnya tertusuk duri..?
Bukankah orang menginginkan mutiara terbaik harus menyelam jauh ke dalam samudra..?
Begitulah..
Kisah diatas juga mengandung pesan bagi para guru dan murabbi untuk bersikap lembut kepada anak didiknya. Karena secara fitrah manusia sangat mencintai kelembutan dan membenci sifat keras. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: " Tidaklah kelembutan melekat pada sesuatu, melainkan ia akan memperindahnya. Dan tidaklah ia dicabut dari sesuatu melainkan akan memperburuknya."
Para guru dan murabbi harus menyadari bahwa mereka yang datang ke majelisnya semata-mata ingin mengangkat kebodohan dari dirinya.
Maka sambutlah mereka dengan tarhib terbaik sebagaimana dahulu Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam menyambut Shofwan bin Assal.
"Marhaban bitholibil Ilm"
Selamat datang wahai penuntut ilmu..
Selamat datang para wasiat Rasulullah..
______________
Madinah 28-01-1437 H
ACT El-Gharantaly

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tulis Bebas tentang "Pandangan Mata"

Oleh: Hanif Fakhrunnisa Pandangan mata ibarat anak panah yang mampu menusuk hati. Bagaimana tidak, seorang alim nan masyhur hafalannya rontok hanya karena tertarik melihat seorang wanita. Kemudian ia beristigfar karena kelalaiannya. Astagfirullah. Telah sampaikah kepada kita, cerita nan penuh faidah tentang seorang alim yang terpikat pada mata seorang muslimah pemakai cadar. Lalu sang alim mengikuti wanita tersebut, hingga pada suatu tempat, wanita itu bertanya, "Mengapa kau mengikutiku?" Sang alim menjawab, "Aku tertarik pada matamu." Kemudian wanita itu menyuruh sang alim menunggu sebentar. Apa yang terjadi selanjutnya? Seorang pelayan perempuan keluar dengan membawa mangkuk. Terkejutlah hati sang alim, karena mangkuk tersebut berisi sepasang masta milik wanita tadi. Astagfirullah. Menyesal sudah sang alim. Tak sanggup ia berkata. Ia meminta maaf berkali-kali, namun tiada guna. Bagaimana sang wanita? Beberapa saat kemudian wanita terseb...