Langsung ke konten utama

PHP: Bangkitlah, Jangan Menyiksa Diri

Oleh: Hanif Fakhrunnisa



Ketika terjebak dalam sebuah situasi "pink" yang memang dibuat sendiri oleh dua insan.
Kemudian sang pria berkata, "Maaf, aku gak bisa menyegerakan. Aku harus menunggu 2-3 tahun lagi. Maaf bila ada sesuatu di antara kita. Bersikaplah biasa, karens kita bukan siapa-siapa.


Lantas sang perempuan menjawab, "Kita bukan siapa-siapa dan kau tak perlu minta maaf. Tak ada yang perlu kita akhiri bukan? Karena kita oun belum memulai."

Bukankan ini menentramkan?
Ending yang indah menurutku.
Sedih tentu, sedih di awal bagi keduanya.
Kejujurannya memang menyakitkan, tapi melegakan untuk selanjutnya. Daripada menjalani hidup dengan kode-kodean dari dia. Daripada dipenuhi harapan yang tak pasti. Daripada 'dosa', setidaknya akan membuat pelakunya futur.
Karena akan sangat menyakitkan hidup dg harapan yang gak jelas, kode yg aneh, futur krn inget dia.

Lekaslah meminta kepastian.
Bagi antum yang sering interaksi dg lawan jenis dan merasa ada yang janggal.
Gak ada yang salah dengab meminta kepastian.
Atau stop langsung interaksi itu.

Terima kasih atas kisah di atas, setahun yang lalu. Ceritanya nyata. Kalimatnya beda dikit, inti sama.
Eits, tentu saja yg perempuan nangis berhari-hari. tapi kan gak tersiksa lagi setelahnya.

HF
2 Shafar 1437 H

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tulis Bebas tentang "Pandangan Mata"

Oleh: Hanif Fakhrunnisa Pandangan mata ibarat anak panah yang mampu menusuk hati. Bagaimana tidak, seorang alim nan masyhur hafalannya rontok hanya karena tertarik melihat seorang wanita. Kemudian ia beristigfar karena kelalaiannya. Astagfirullah. Telah sampaikah kepada kita, cerita nan penuh faidah tentang seorang alim yang terpikat pada mata seorang muslimah pemakai cadar. Lalu sang alim mengikuti wanita tersebut, hingga pada suatu tempat, wanita itu bertanya, "Mengapa kau mengikutiku?" Sang alim menjawab, "Aku tertarik pada matamu." Kemudian wanita itu menyuruh sang alim menunggu sebentar. Apa yang terjadi selanjutnya? Seorang pelayan perempuan keluar dengan membawa mangkuk. Terkejutlah hati sang alim, karena mangkuk tersebut berisi sepasang masta milik wanita tadi. Astagfirullah. Menyesal sudah sang alim. Tak sanggup ia berkata. Ia meminta maaf berkali-kali, namun tiada guna. Bagaimana sang wanita? Beberapa saat kemudian wanita terseb...