Langsung ke konten utama

Masih Hidupkah Hatimu?!

Cobalah raba HATI Anda… masih hidupkah dia?!

=======

Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- mengatakan:

"Seorang mukmin, selamanya tidak akan merasakan kelezatan yg sempurna karena kemaksiatan, dan tidak akan lengkap kebahagiaannya karena kemaksiatan.

Bahkan dia tidaklah melakukan kemaksiatan, melainkan kegundahan akan mencampuri hatinya, namun mabuknya syahwat menutupi hatinya sehingga dia tidak merasakannya.

Dan kapan hatinya sepi dari kegundahan ini, bahkan keinginan dan kesenengannya malah bertambah dengan kemaksiatan, maka harusnya dia berprasangka buruk pada imannya, dan menangisi kematian hatinya.

Karena seandainya hatinya hidup, harusnya perbuatan dosanya itu menjadikan hatinya gundah, berat, dan sulit menjalani…

Sehingga ketika hati itu sudah tidak merasakan (pedihnya) dosa; maka tidaklah sebuah luka menjadikan sakit jasad yang sudah mati".

[Kitab: Madarijus Salikin, Ibnul Qoyyim, 1/198-199].

Ustadz Musyaffa Ad Dariny
___________________
 Daftar Broadcast "Indonesia Bertauhid" (@indonesiatauhid)

BBM: 59957910
WhatsApp: 0898-60-1-70-70
Line: http://line.me/ti/p/%40dxn3713g
Telegram: https://telegram.me/itauhid
-------------------
♻ Silahkan disebarluaskan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tulis Bebas tentang "Pandangan Mata"

Oleh: Hanif Fakhrunnisa Pandangan mata ibarat anak panah yang mampu menusuk hati. Bagaimana tidak, seorang alim nan masyhur hafalannya rontok hanya karena tertarik melihat seorang wanita. Kemudian ia beristigfar karena kelalaiannya. Astagfirullah. Telah sampaikah kepada kita, cerita nan penuh faidah tentang seorang alim yang terpikat pada mata seorang muslimah pemakai cadar. Lalu sang alim mengikuti wanita tersebut, hingga pada suatu tempat, wanita itu bertanya, "Mengapa kau mengikutiku?" Sang alim menjawab, "Aku tertarik pada matamu." Kemudian wanita itu menyuruh sang alim menunggu sebentar. Apa yang terjadi selanjutnya? Seorang pelayan perempuan keluar dengan membawa mangkuk. Terkejutlah hati sang alim, karena mangkuk tersebut berisi sepasang masta milik wanita tadi. Astagfirullah. Menyesal sudah sang alim. Tak sanggup ia berkata. Ia meminta maaf berkali-kali, namun tiada guna. Bagaimana sang wanita? Beberapa saat kemudian wanita terseb...