Langsung ke konten utama

Bersama Dua Lelaki Paruh Baya

cerita 1
tadi nunggu angkot di depan kampus, menjelang maghrib (udah biasa sih). alhamdulillah ditemeni seorang adik yang baru kukenal.
angkot itu tak kunjung tiba, aku sangat khawatir dengan sholat maghribku. dan tiba-tiba ada angkot berbalik arah.
aku: xxxxx, pak?
sopir: nggih, mbak..
alhamdulillah dapet angkot. hmmm sopir itu terlihat tua dan rambutnya telah beruban..
aku: pak, kiri nggiiiih..
sopir: nggih, mbak. lewat mriki nggih amargi njenengan, mbak...
aku: *ehhh...  senyum, ‪#haru
sopir: ati-ati lhe, mbak.. lihat belakang dulu, mbak..
aku: nggih, pak. *semakin terharu
bapaknya gak ngeluh, gak nggresula, nyopirnya gak ugal-ugalan, aman, terkendali. safety banget. padahal kalo lewat rumahku, harus sedikit muter. biasanya sopir angkot gak lewat, apalagi kalo udah maghrib. kalopun lewat, biasanya ugal-ugalan.
cerita 2
pas SMA, kalo mau ke tempat ibu, sering naik becak. kalo jalan, lumayan jauh, tapi kalo naik bus, terlalu dekat. hehe alhasil, naik becak.
ada beberapa pak becak langganan, tapi sejujurnya aku gak begitu hafal mereka. hehe
hingga setahun yang lalu, seusai rapat di SMA...aku melewati seorang pak becak, sebelum aku bertanya, beliau yang menyapa terlebih dahulu.
pak becak: xxxxx, mbak?
*ehhh kok bisa tau sebelum aku bilang??
aku: nggih, pak.. *mengangguk
pas dalam perjalanan..
pak becak: mbak, nopo njenengan sampun lulus (SMA maksudnya)? kok mboten numpak becak malih?
aku: nggih, pak. sampun lulus 2 tahun...
pak becak: oalah.... bla bla bla
kok bisa masih inget denganku? hehe tempat tujuanku juga masih inget.. subhanallah….


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tulis Bebas tentang "Pandangan Mata"

Oleh: Hanif Fakhrunnisa Pandangan mata ibarat anak panah yang mampu menusuk hati. Bagaimana tidak, seorang alim nan masyhur hafalannya rontok hanya karena tertarik melihat seorang wanita. Kemudian ia beristigfar karena kelalaiannya. Astagfirullah. Telah sampaikah kepada kita, cerita nan penuh faidah tentang seorang alim yang terpikat pada mata seorang muslimah pemakai cadar. Lalu sang alim mengikuti wanita tersebut, hingga pada suatu tempat, wanita itu bertanya, "Mengapa kau mengikutiku?" Sang alim menjawab, "Aku tertarik pada matamu." Kemudian wanita itu menyuruh sang alim menunggu sebentar. Apa yang terjadi selanjutnya? Seorang pelayan perempuan keluar dengan membawa mangkuk. Terkejutlah hati sang alim, karena mangkuk tersebut berisi sepasang masta milik wanita tadi. Astagfirullah. Menyesal sudah sang alim. Tak sanggup ia berkata. Ia meminta maaf berkali-kali, namun tiada guna. Bagaimana sang wanita? Beberapa saat kemudian wanita terseb...