Seorang
mahasiswi yang setahun lalu masuk Ma'had padahal
dia belum mengenal baca tulis Arab, datang menghadap untuk mengajukan cuti. Dia
terkendala dan merasa kesulitan belajar bahasa Arab. Merasa kehilangan
kepercayaan diri dan hilang semua hafalan yang sudah dipersiapkan setiap kali
berdiri di depan kelas untuk takallum atau speaking. Jangankan berdiri di
depan, setiap harinya saja dia akan memilih untuk duduk di barisan paling
belakang karena ketidakpercayaan dirinya. Padahal perkembangan bahasa
Arab dan studi Islamnya sudah cukup pesat.
Semester ini
dia mengajukan cuti dan memutuskan bekerja untuk menanggulangi rasa tidak
percaya dirinya itu. Dia ingin bertemu dengan komunitas lain untuk mendongkrak
kepercayaan dirinya. Apakah itu solusi? Aku juga tidak tahu. Aku tidak bisa
memaksanya untuk tetap tinggal dan melanjutkan pendidikannya. Jangan bekerja
karena dia memang masih kecil dan orangtuanya pun siap mendukungnya belajar.
Baik secara finansial maupun sarana prasarana. Karena perasaan itu sangat personal
dan tidak bisa dipaksakan.
Hanya saja
memang belajar bahasa Arab ini tidak mudah&menurutku pun tidak bisa
disederhanakan. Penyederhanaan yg dilakukan hanya akan membuat kita
mengkotak-ngotakkan tujuan pembelajaran itu sendiri. Teman-teman yg tekun dan mempelajari
semua aspek bahasa secara utuh menyeluruh dr listening, speaking, reading
bahkan writing secara bertahap dengan sendirinya akan memahami bahasa Arab lebih
baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran untul membuat mahasiswa mampu
berbicara dengan lancar dalam bahasa Arab juga menulis Arab. Karena Jumlah Kosa
kata yang dimiliki bahasa ini termasuk banyak belum termasuk derivasinya. Tidak
sederhana. Belum aspek pelengkap bahasa ini pun mesti dikaji seperti
sastra,imla,nahwu shorf&balaghah. Apalagi Ma'had ini menambah kajiannya
dengan memasukkan studi Islam. Seperti hadis, tafsir, fiqh, siroh, ushul fiqh
bahkan tsaqofah islamiyyah. Jadilah lengkap sudah. ketika di Ma'had mereka dituntut
untuk fokus kus kus sehingga bisa maksimal dalam memahami bahasa Arab dan studi
Islam.
Kembali ke
kasus mahasiswa ini, yang aku tahu hanya ilmu yang membuat dia menjadi percaya
diri. karena hanya ilmu yang mampu merubah keadaan seseorang dr miskin menjadi
kaya, dari kecil menjadi besar bahkan dari no one menjadi someone. Bukankah
Allah sudah menjamin dengan, "Yarfa'illa:hulladzi:na a:manu: minkum
walladzi:na u:tul 'ilma daroja:t...... Apalagi dengan ilmu-ilmu agama. So?
Menurutku sabar saja. Lanjutkan. Deg-degan&hilang hafalan ketika maju atau
takut dengan salah seorang pengajar memang tantangan para penuntut ilmu bukan? :)
ma'akumun-najah.......
--------
Semoga tulisan ini dapat memotivasi kita, khususnya diriku sendiri yang masih juga belajar Bahasa Dhod. :)Tulisan ini bersumber dari seorang dosen Sastra Arab yang Mengajar di Ma'had Abu Bakr..
Syukran yaa ustadzah.. :)

Komentar
Posting Komentar