Langsung ke konten utama

Kisah Seorang Ibu

Sebuah cerita haru dari seorang ibu, tentang perjuangan ibu, pengorbanannya dan kerasnya hidup..
sumber: Ernydar Erfan
-----------------------------------------------------------------------

Hari ini sesosok wanita tua mengetuk pintu kaca toko.



Nenek: “bu... beli kue saya... belum satupun terjual... kalau saya sudah ada yang lSaya saya enggak berani ketuk kaca toko ibu...”
Saya persilakan beliau masuk dan duduk. segelas air dan beberapa butir kurma saya sajikan untuk beliau.
Saya       : “ibu bawa kue apa?”
Nenek     : “gemblong, getuk, bintul, gembleng bu.”
Saya       : “ saya nanti beli kue ibu... tapi ibu duduk dulu, minum dulu, istirahat dulu, muka ibu sudah pucat.” Dia mengangguk sambil memegang keningnya.. air matanya mulai jatuh. saya cuma bisa memberinya sehelai tisu...
Nenek     : “sekarang makan makin susah bu.... kemarin aja beras gak kebeli... apalagi sekarang... katanya bensin naik.. apa apa serba naik.. saya udah 3 bulan cuma bisa bikin bubur.. kalau masak nasi gak cukup. hari ini jualan gak lSaya, nawarin orang katanya gak jajan dulu. apa apa pada mahal katanya uang belanjanya pada enggak cukup.
Saya       : “anak ibu sakit apa?”
Nenek     : “gak tau ibu..batuknya berdarah...”
Saya terpana...
dia cuma tertunduk..
Nenek     : “saya bawa anak saya pakai apa bu? gendong gak kuat.. jalannya jauh.. naik ojek gak punya uang...
Saya       : “ini ibu kue bikin sendiri?
Nenek     : “enggak bu... ini saya ngambil”
Saya       : “terus ibu penghasilannya dari sini aja?”
dia mengangguk lemah...
Saya       : “berapa ibu dapet setiap hari?”
Nenek     : “gak pasti bu... ini kue untungnya 100-300 perak, bisa dapet 4ribu -12 ribu paling banyak.”
Kali ini air mata saya yang mulai mengalir......
Saya       : “ibu pulang jam berapa jualan?”
Nenek     : “jam 2.. saya gak bisa lama lama bu.. soalnya uangnya buat beli beras.. suami sama anak saya belum makan. Saya gak mau minta minta, saya gak mau nyusahin orang.”
Saya       : “Ibu, kue-kue ini tolong ibu bagi-bagi di jalan, ini beli beras buat 1 bulan, ini buat 10x bulak balik naik ojek bawa anak ibu berobat, ini buat modal ibu jualan sendiri. ibu sekarang pulang saja.. bawa kurma ini buat pengganjal lapar...”
Ibu itu menangis... dia pindah dari kursi ke lantai, dia bersujud tak sepatah katapun keluar lalu dia kembalikan uang saya.
Nenek    : “kalau ibu mau beli.. beli lah kue saya. tapi selebihnya enggak bu... saya malu.... saya pegang erat tangannya...”
Saya      : “ibu... ini bukan buat ibu... tapi buat ibu saya... saya melakukan ini sebagai bakti untuk ibu saya, agar dia merasa tidak sia sia membesarkan dan mendidik saya... tolong di terima...”
Saya bawa keranjang jualannya... saat itu Saya memegang lengannya dan saya menyadari dia demam tinggi. dia cuma bercucuran airmata lalu memeluk saya... saya cuma bisa tersenyum... saya bimbing beliau menyeberang jalan, lalu saya naikkan angkot... beliau terus berurai air mata...
Saya      : “ibu.. ibu harus bawa anak ibu ke puskesmas kan ada BPJS...
Saya      : “ibu pulang ya...”
Nenek    : “bu.. saya gak mau kesini lagi... saya malu.... ibu gak doyan kue jualan saya... ibu cuma kasihan sama saya... saya malu...”
Saya      : “ibu saya doyan kue jualan ibu, tapi saya kenyang... sementara ibu di luar pasti banyak yang lapar dan belum tentu punya makanan. sekarang ibu pulang yaa...”

saya bimbing beliau menyeberang jalan, lalu saya naikkan angkot... beliau terus berurai air mata...


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tulis Bebas tentang "Pandangan Mata"

Oleh: Hanif Fakhrunnisa Pandangan mata ibarat anak panah yang mampu menusuk hati. Bagaimana tidak, seorang alim nan masyhur hafalannya rontok hanya karena tertarik melihat seorang wanita. Kemudian ia beristigfar karena kelalaiannya. Astagfirullah. Telah sampaikah kepada kita, cerita nan penuh faidah tentang seorang alim yang terpikat pada mata seorang muslimah pemakai cadar. Lalu sang alim mengikuti wanita tersebut, hingga pada suatu tempat, wanita itu bertanya, "Mengapa kau mengikutiku?" Sang alim menjawab, "Aku tertarik pada matamu." Kemudian wanita itu menyuruh sang alim menunggu sebentar. Apa yang terjadi selanjutnya? Seorang pelayan perempuan keluar dengan membawa mangkuk. Terkejutlah hati sang alim, karena mangkuk tersebut berisi sepasang masta milik wanita tadi. Astagfirullah. Menyesal sudah sang alim. Tak sanggup ia berkata. Ia meminta maaf berkali-kali, namun tiada guna. Bagaimana sang wanita? Beberapa saat kemudian wanita terseb...