Berikut ada sebuah tulisan yang dapat mewakili jeritan hatiku.. hiks hiks hiks.. why?? hmmm sekarang banyak dijumpai ikhwan (laki-laki) yang mempermainkan perempuan istilah lain PHP. Yaaa, ntah ikhwan sadar atau nggak, tapi secara tidak sengaja memPHP akhwat. Dannn rasanya itu..........hemmm sakit.
Iya sih, kita nggak akan diPHP, kecuali kalo harapan palsu itu kita ijinkan masuk ke hati... Tapi kadang, ikhwan gak paham perasaan akhwat yang sangat mudah 'merasa'... :'(
Jadi harus gimana? yuuuuk baca tulisan ini.. semoga memberi inspirasi :)
ukhtiy, ketahuilah bahwa engkau begitu berharga... :)------------------------------------------------------------------------------------------------
Dering hand phone di
atas meja kamar rasanya tidak pernah lama untuk diam. Baru saja diletakkan di
atas meja, hand phone kembali berdering. Spontan tangan ini dengan sigap
mengambil kembali benda tersebut.
“Assalamu’alaikum, Ukhti…
Apa kabar?” Bunyi pesan pertama dari seberang.
Lain waktu, masih dengan nomor yang
sama.
“Assalamu’alaikum, sudah
makan Ukh?” Atau pesan lain, “Tahajjud, Yuk…” dan pesan –pesan lainnya yang
tidak begitu penting rasanya.
Ah, mungkin itu hanya sepenggal pesan
yang disampaikan oleh seorang laki-laki kepada seorang perempuan. Bunyi pesan
tersebut mungkin terkesan biasa saja. Namun siapa sangka dari pesan yang biasa
saja itu menjadi lebih dari biasa ketika disampaikan oleh orang yang sama
berkali-kali, atau mungkin hampir setiap hari. Dan hal ini bisa terjadi saat
keharusan berkomunikasi yang awalnya hanya sebatas mengingatkan berubah menjadi
menginginkan. Ya, yang awalnya mengingatkan untuk datang agenda ini, atau
mengingatkan acara itu. Berubah menjadi kebiasaan yang menginginkan untuk
terus berkomunikasi.
Wahai akhi, sekali lagi. Mungkin
itu hanya sepenggal kisah yang sering tidak kita sadari terjadi pada diri kita.
Sebagian orang merasa komunikasi seperti itu adalah hal yang biasa saja. Tapi
tidak seharusnya bagi kita yang mengetahui apa resiko dari intensitas yang kita
lakukan. Bukankah hal yang besar itu terjadi karena hal kecil? Bukankah sebuah
rasa bisa saja muncul saat seringnya komunikasi yang kita lakukan? Awalnya
hanya bertanya kabar. Kemudian saling komentar di media sosial. Bisa jadi,
berujung dengan pengharapan.
Maaf, bukan karena aku berada pada
posisi seorang perempuan. Tapi, bisa jadi ini benar adanya. Sebagian laki-laki
lebih mengedapankan logika dibanding perasaan. Sedangkan sebagian perempuan
lebih mengedapankan perasaan dibanding logika. Ada hal yang tiba-tiba muncul
ketika seorang perempuan merasa mendapatkan perhatian dari seseorang, apalagi
laki-laki. Padahal, menurut si laki-laki, itu bukanlah bentuk perhatian yang
dimaksud si perempuan. Aku tidak mengatakan ini sepenuhnya salah laki-laki.
Komunikasi yang salah tidak akan
terjadi jika tidak saling bersambut. Tidak akan terjadi jika tidak ada
komunikasi dua arah. Hanya saja, perempuan memiliki hati yang sangat mudah
tersentuh. Dan sethan senantiasa ada membantu menjerumuskan. Ketika rasa
suka muncul karena seringnya terjadi komunikasi antar keduanya. Rasa suka
apalagi cinta muncul karena fitrah manusia. Tapi bukankah menjadi suatu hal
yang salah ketika rasa yang katanya bernama cinta muncul pada dua orang yang
belum berhak atasnya. Bukankah kita ingin menjemput sakinah itu dengan jalan
yang berkah?
Nah, karena perempuan memiliki rasa
yang lebih sensitif. Sering salah menafsirkan sesuatu sehingga menganggap itu
bentuk perhatian. Kuharap kita bisa saling menjaga agar tidak ada yang merasa
terlalu diperhatikan.
Wahai akhi, bantu kami untuk
menjaga hati. Jangan sekali-kali kalian berikan perhatian yang mengakibatkan
munculnya penyakit hati. Bicaralah sekedarnya saja, dan perlakukan kami
sewajarnya saja. Tak mengapa jika kalian acuh dan tak menghiraukan jika sewaktu
waktu kita membicarakan sesuatu yang tidak begitu penting. Jangan kau sambut
dengan suka hati apalagi membumbui sehingga ringan sekali lisan ini berbagi.
Cukuplah Allah yang tau jika seandainya memang kita sedang memberikan perhatian
kepada orang yang kita kagumi. Jadikan kekaguman itu sebagai doa, bukan sesuatu
yang merusak berkahnya jalan kita menuju ikatan yang sah. Bantu kami, untuk
menjaga diri ini. Agar ketika saatnya tiba, tidak ada yang merasa disakiti
karena orang yang kita harapkan bukanlah untuk kita.
Wallahu A’lam.

Komentar
Posting Komentar