Murid yang menempuh pendidikan di Universitas Islam Imam Muhammad bin Su'ud (Riyadh) sangatlah banyak, hingga didatangkanlah dosen dari luar negara Saudi Arabia untuk mengajar di sana. Pada suatu saat, ada seorang Dosen (diduga dari luar negeri arab) yang sedang mengajar nahwu (sintaksis aka "grammar" bahasa arab), dan menjelaskan bahwa huruf لَمْ tidak akan pernah bisa masuk ke fi'il madhi. Lalu, ada seorang mahasiswa yang dianggap cerdas (tapi iseng) dan memiliki cita rasa sastra yang tinggi, hingga dengan mudahnya dia membuat syair dalam bahr rajaz (bahr yang banyak digunakan dalam berbagai cabang ilmu yang dikemas dalam syair berbentuk nazhm adalah bahr rajaz, seperti Alfiyyah Ibnu Malik). Kemudian mahasiswa ini berkata, Wahai ustadz...bagaimana pendapat Anda tentang perkataan penyair (atau pembuat nazhm ==> padahal yang buat syair dia sendiri)
و جوَّزوْا دخولَ لَمْ على المُضِي ### كلمْ دعى و لم سعى و لم رضي؟
Baca nya: wa jawwazu dukhula lam 'alal mudhi
ka lam da'a wa lam sa'a wa lam radhi
[komentar: rajaz "banget" nggak?...bagi yang sudah kenal ilmu 'arudh Insya Allah paham apa yang saya bilang.]
Nah, mendengar hal itu...sang ustadz jadi bimbang terhadap apa yang telah disampaikannya (kalau mendengar ceritanya langsung, mungkin akan ketawa terkekeh-kekeh seperti saya ini jadinya)...hingga Beliau pun berkata, "sebetulnya ada perselisihan di antara 'ulama...". Atas dasar inilah yang menyebabkan ustadz tersebut diberhentikan dari pekerjaannya (yaa...karena di"begitu"kan sama muridnya saja kok bisa terkecoh, kan berarti dia kurang yakin dengan apa yang telah diilmuinya).
Dikisahkan oleh Syaikh 'Abdulkarim Asy-Syawwai
==========================================================
Dari kisah ini kita dapat belajar bahwa:
1. Ketika kita mengetahui suatu ilmu, lalu datanglah pendapat baru yang menyelisihinya...janganlah mudah ragu dan bimbang sebelum menimbang, menelaah dan menelitinya lebih dalam.
2. Cukuplah berkata,"saya tidak tahu" jika memang seseorang itu belum mengetahui hakikat sesuatu. Tidak usah malu dan ragu mengucapkan demikian karena khawatir dianggap bodoh dan belum berilmu. Bahkan perkataan "saya tidak tahu" adalah setengah ilmu. Bahaya, jika sok tahu dan jahl murakkab (bodo kuadrat) nya itu dalam perkara agama, hingga dia berbicara tanpa ilmu.
Syaikh Bakr Abu Zaid berkata, “Jika setengah ilmu adalah perkataan “Aku tidak tahu” maka setengah kebodohan adalah perkataan “Dikatakan…” dan perkataan “Aku sangka…”” *)
*) At-Ta’liq Ats-Tsamin hal 325
Imam Asy-Sya’bi Rahimahullah, "Kalimat ’saya tidak tahu’ adalah setengah ilmu". (Riwayat Ad-Darimi 1/63; Al-Khatib dalam Al-Faqih Wal Mutafaqih juz 2/173; Baihaqi dalam Al-Madkhal no 810. Lihat Hilyatul ‘Ilmi Al- Mu’allim hal 65) **)
**) dikutip dari http://dhiyaussunnah.or.id/articles/view_article/109
Allah 'Azza wa Jalla berfirman,
وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولـئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولا 36
"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya." (Qs. Al-Isra':36)
3. Pentingnya mengilmui sesuatu dengan yakin. Saya ingat ada seorang ustadz yang pernah mengajar saya, Beliau jika sedang mengetes pemahaman murid-muridnya selalu "menyimpangkan" dan membuat syubuhat. Jika si murid tidak teliti dan yakin, dengan mudahnya si murid akan terkena jebakan ustadz tersebut. Ingat!!! syubuhat itu ada di mana-mana dan begitu kencang menerpa jiwa kita.
- Ummu Yazid Faa -
Komentar
Posting Komentar