Langsung ke konten utama

Surat Cinta Untuk Muslimah Perindu Jannah



Aku ingin memberimu sesuatu, sebagai tanda cinta kasih dariku untukmu...Maaf jika kau kecewa, karena ini bukanlah cinderamata berharga yang bisa kau taksir harganya. Pun bukan makanan lezat yang bisa kau cicip rasanya. Ini hanyalah untaian kata, kuharap kau bisa mengenangnya sepanjang masa.

Kau
Percayalah, terus memikirkannya dengan hati yang berduka, tidak akan berfaidah apapun jua. Janganlah terlarut dalam duka...ketika lisan dan perbuatan mereka menggoreskan luka. 


Bersabarlah dengan sabar yang sesungguhnya...maka kau jua yang kan tuai hasilnya. Mungkin tidak di dunia kau bisa lihat buahnya, namun di akhirat nanti kesabaranmu menggunung pahala Insya Allah.


Sikapilah saja dengan santun perbuatan, hikmah penjelasan, lembut perkataan, bijaksana, dan hati yang berlapang dada. Barangkali mereka hanya belum tahu ilmunya. Berpegang teguh pada sunnah merupakan hal yang asing keberadaannya, mudah-mudahan kita termasuk menjadi bagian Al-Ghuraba.


Tak usah kau tunjukkan pada dunia, atau kau tarik tiap pandangan mata...seolah kau berkata, “Inilah aku yang sedang berduka.” Tegarkan sosokmu di tengah badai ujian yang melanda! Kuatkan hatimu dengan tameng keimanan yang membaja! Jadilah mukminah yang kuat imannya!





Kau tahu...menggenggam bara api menyala itu panas rasanya. Itulah cerminan betapa sukarnya bertahan meniti kebenaran di atas jalan yang diridhai-Nya.

Ujian demi ujian pasti kan menghadangmu di luar sana. Tetaplah tegak bertahan! Jangan tumbang hati dan ragamu karenanya! Tunggulah, suatu saat nanti kan tiba, ketika kesukaran itu menjadi manis akhirnya.


Ingatlah...bahwa Allah tidak akan menguji di luar kesanggupan seorang hamba. Kau tahu apa maksudnya? Jika Allah mengujimu dengan cobaan yang tak kau suka, Dia mengerti bahwa kau sanggup mengampunya. Kini yang harus kau pikir justru bagaimana cara “lulus” dengan hasil memuaskan atas ujian-Nya. Maka, kunci jawaban ujian itu terletak dalam sabar, doa, tawakkal, dan ridha atas takdir-Nya.



Jika sedih dan letihmu beradu, tentu kau tahu sebaik tempatmu mengadu. Panjatkan lebih aduan dan doa di tengah malam yang syahdu, dan pada waktu besar kemungkinan terkabulnya doamu...bukan malah mengiba orang lain mengasihanimu! Ingatlah...masih ada Allah sebagai tempat bergantung, tempat mengadu, tempat memohon, yang kan menolongmu. Masih ada Al-Qur'an yang bisa menawarkan gundah dan dukamu. Masih ada As-Sunnah yang menjadi lentera petunjuk untuk menerangi waktu kelabumu. Masih ada buku-buku sumber ilmu yang bisa menjadi teman setia dalam diam sendirimu. 


Masih ada kisah-kisah perjuangan menegakkan dinul Islam dari umat terdahulu yang bisa menjadi penghiburmu. Tak lupa kuingatkan bahwa masih ada kami saudari-saudarimu, yang sedia berbagi laramu dan berada di sisimu untuk menyokong bahumu melalui masa sulit itu.


Tunjukkan dengan akhlak mulia, tentang kebenaran ajaran yang kau bawa...bahwa dahulu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan 3 generasi terbaik umat ini meniti jalan di atasnya, dengan kelakuan yang sama. Suguhkan senyum di muka, haturkan salam hangatmu dan santun budimu bagi mereka. Bergaulah apik di tengah masyarakat, selama kelakuanmu bukan maksiyat pada Sang Pencipta. Lebih-lebih jika kau punya limpah makanan yang ada, bagikanlah pada tetangga. Betapa cermin akhlak mulia, dapat mengalahkan rangkaian huruf dan seruan kata.


Patrikan pada jiwa, ikhlaskan niatmu....bersihkan niat dari kotoran sum'ah dan riya. Hanyalah ridha dan Firdaus-Nya yang kau pinta...bukan malah ridha manusia yang kau puja! Maka, biarkan orang hendak berkata apa, yang pasti kau titi jalan kebenaran itu hingga nyawa terlepas dari raga.

Tidak usah kau ragu akan janji-Nya....kelak, kau kan kecap indahnya surga -Insya Allah-, duduk bertelekan di dipan-dipan dan menenggak minuman dari gelas piala yang bening laksana kaca, mengenakan pakaian indah dari sutra hijau warnanya. Akan tetapi, kau harus tahu….jalan menuju surga penuh dengan hal yang berat dan sulit dilakukan jiwa.


4 September 2016

Dariku yang menicntaimu karena-Nya
Nisaa Ummu Maryam 

Disadur bebas dari tulisan Ummu Yaziid Fa



Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tulis Bebas tentang "Pandangan Mata"

Oleh: Hanif Fakhrunnisa Pandangan mata ibarat anak panah yang mampu menusuk hati. Bagaimana tidak, seorang alim nan masyhur hafalannya rontok hanya karena tertarik melihat seorang wanita. Kemudian ia beristigfar karena kelalaiannya. Astagfirullah. Telah sampaikah kepada kita, cerita nan penuh faidah tentang seorang alim yang terpikat pada mata seorang muslimah pemakai cadar. Lalu sang alim mengikuti wanita tersebut, hingga pada suatu tempat, wanita itu bertanya, "Mengapa kau mengikutiku?" Sang alim menjawab, "Aku tertarik pada matamu." Kemudian wanita itu menyuruh sang alim menunggu sebentar. Apa yang terjadi selanjutnya? Seorang pelayan perempuan keluar dengan membawa mangkuk. Terkejutlah hati sang alim, karena mangkuk tersebut berisi sepasang masta milik wanita tadi. Astagfirullah. Menyesal sudah sang alim. Tak sanggup ia berkata. Ia meminta maaf berkali-kali, namun tiada guna. Bagaimana sang wanita? Beberapa saat kemudian wanita terseb...