Hasil dari proses belajar adalah seseorang
memahami posisi dan kadar diri. Buah dari pemahaman tersebut :
1. Tidak berkomentar pada hal-hal yang tidak ia
ketahui;
2. Tidak berkomentar pada hal-hal yang samar baginya;
3. Tidak grusa-grusu berkomentar meski ia sudah tahu;

Apa yang terluput darinya sebuah pemahaman, tidak menjadikan ia langsung menyalahkan yang lain. Kita tidak seperti ungkapan Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullahu tentang Yahya bin Ma'in rahimahullahu :
Maka, sungguh tidak layak kita menempatkan nama kita setara
dengan Yahya bin Ma'in rahimahullahu :
"Setiap pemahaman yang tidak aku pahami, maka salah..."
Satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah meniru bagaimana beliau belajar, hingga mencapai kedudukan yang mulia di sisi para cendekia.
Berikut adalah satu di antara kesungguhan beliau, yang digambarkan oleh beliau sendiri :
2. Tidak berkomentar pada hal-hal yang samar baginya;
3. Tidak grusa-grusu berkomentar meski ia sudah tahu;

Apa yang terluput darinya sebuah pemahaman, tidak menjadikan ia langsung menyalahkan yang lain. Kita tidak seperti ungkapan Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullahu tentang Yahya bin Ma'in rahimahullahu :
" Semua hadist yang
tidak diketahui oleh Yahya bin Ma'in, berarti bukan hadist, beliau adalah orang
yang diciptakan oleh Allah hanya untuk tujuan membersihkan hadist dan menjaga
keotentikan hadist dari kebohongan dan kepalsuan "
"Setiap pemahaman yang tidak aku pahami, maka salah..."
Satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah meniru bagaimana beliau belajar, hingga mencapai kedudukan yang mulia di sisi para cendekia.
Berikut adalah satu di antara kesungguhan beliau, yang digambarkan oleh beliau sendiri :
Apa yang terluput darinya
sebuah pemahaman, tidak menjadikan ia langsung menyalahkan yang lain. Kita
tidak seperti ungkapan Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullahu tentang Yahya bin
Ma'in rahimahullahu :
Kalau saya belum menulis satu hadist sampai 50 kali, berarti saya belum mengetahuinya
Mendengar hadits saja enggan,
menulis sekali saja ogah-ogahan, ngaji ta'shil dari dasar saja malas, sudah
berlagak seperti punggawa ulama' di facebook. Jangan berfikir orang akan
membuatmu malu, berhati-berhati terhadap dirimu yang tak tahu malu.
Penulis: Muhammad Nur Faqih
Penulis: Muhammad Nur Faqih
Komentar
Posting Komentar